Transportasi Umum Transportasi UmumRangkuman praktis dan ulasan ringan untuk keseharian.
general

Naik Transportasi Umum di Muaradua: Dari Angkot Hingga Ojek Online

Cerita pengalaman sehari-hari menggunakan transportasi umum di Muaradua, mulai dari angkot tradisional hingga layanan ojek online yang mulai menjamur.

22 May 2026 · 2 menit baca · oleh Ratih Saraswati
Naik Transportasi Umum di Muaradua: Dari Angkot Hingga Ojek Online

Pagi Minggu di Muaradua selalu dimulai dengan bunyi klakson angkot yang bersahutan. Saya sering milih naik angkot warna kuning itu ke pasar, bukan karena nggak punya motor, tapi justru pengen ngerasain lagi kesibukan warga kecil yang saling nyapa di dalamnya. Transportasi umum di sini mungkin nggak secanggih di kota besar, tapi punya ceritanya sendiri.

Angkot: Jantung Transportasi Warga

Angkutan kota di Muaradua masih mengandalkan Suzuki Carry tua yang dicat warna-warni. Tarifnya tetap Rp5.000 per orang, nggak berubah sejak 2020 meski harga BBM naik. Uniknya, sopir angkot di sini hafal semua penumpang tetapnya. "Ibu ke pasar lagi ya?" tanya Bang Andi, sopir angkot rute Terminal-Pasar, begitu ngeliat saya naik.

Meski nyaman, jadwal angkot nggak pasti. Kadang kita harus nunggu 30 menit karena sopirnya istirahat makan siang. Warga biasa ngatasi ini dengan nebeng pickup atau naik ojek konvensional. Menurut Tempo, fenomena angkot yang bertahan di desa seperti Muaradua menunjukkan ketergantungan masyarakat pada transportasi murah.

angkot kuning Muaradua

Ojek Online: Perlahan Mengubah Kebiasaan

Sejak 2024, beberapa pemuda di sini mulai jadi driver ojek online. Layanannya belum selengkap di Jakarta, tapi cukup membantu saat angkot langka. "Daripada nongkrok nggak jelas, mending cari tambahan," kata Rian, driver lokal yang saya temui di warung kopi.

Yang menarik, tarif ojek online di Muaradua sering lebih murah daripada tarif resmi. Driver biasanya menawarken harga langsung ke penumpang untuk menghindari potongan aplikasi. Sistem barter kayak gini justru bikinnya lebih laku dibanding ojek pangkalan tradisional.

Saya sendiri beberapa kali pake ojek online pas bangeet—misalnya waktu hujan deras dan angkot pada mogok. Lumayan, nggak perlu nunggu lama.

Tantangan yang Masih Mengintai

Masalah terbesar adalah minimnya transportasi umum setelah maghrib. Angkot berhenti operasi jam 6 sore, sementara ojek online jarang yang mau kerja malam. Warga yang pulang kerja sering terpaksa jalan kaki atau nebeng tetangga. Pemerintah setempat sebenernya pernah nganggarkan bus desa, tapi proyeknya mangkrak gara-gara masalah perizinan.

Saya masih milih angkot untuk aktivitas sehari-hari. Selain lebih murah, rasanya seperti menjaga tradisi kecil yang perlahan bisa punah. Di balik gemuruh mesinnya yang sudah tua, ada cerita tentang Muaradua yang tetap bertahan meski zaman berubah.

driver ojek online Muaradua

Selengkapnya di: sumber resmi

Tag: #angkot #ojek_online #transportasi_desa